Semua pelajar agama—terlebih mahasiswa kampus Al-Azhar Mesir—tentu tahu betul betapa pentingnya Bahasa Arab. Bagaimana tidak, Al-Qur’an, Hadis, serta khazanah ulama dalam berbagai disiplin ilmu ditulis dalam bahasa ini. Karena itu, penguasaan Bahasa Arab menjadi syarat wajib untuk bisa memahami agama secara mendalam.
Meski mayoritas mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) telah belajar bahasa Arab sejak di Indonesia—bahkan banyak yang alumni pesantren—kenyataannya tidak sedikit yang belum mampu membaca teks Arab dengan baik. Padahal mereka sangat identik dengan kepandaian membaca kitab Arab.
Dalam aspek menyimak pun demikian. Di ruang kuliah atau majelis talaqqi, sebagian masih kesulitan menangkap penjelasan guru secara langsung, hingga membutuhkan penjelasan versi bahasa Indonesia dari teman atau senior.
Jika beralih ke kemampuan menulis dan berbicara bahasa Arab, tantangannya lebih besar. Tidak semua yang lancar membaca otomatis mampu menulis dengan baik, apalagi berbicara secara spontan tanpa berpikir panjang dalam memilih diksi dan menyusun kalimat.
Empat Aspek Keterampilan Bahasa
Empat keterampilan bahasa tersebut—mendengar, membaca, menulis, dan berbicara—saling terkait dan saling menguatkan. Mendengar dan membaca adalah proses menerima bahasa (input), sedangkan menulis dan berbicara adalah proses menghasilkan bahasa (output). Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tanpa asupan mendengar dan membaca yang memadai, kemampuan berbicara dan menulis tidak akan tumbuh optimal.
Bagi mahasiswa Al-Azhar, kemampuan Bahasa Arab bukan sekadar pelengkap, melainkan keharusan. Diktat kuliah, penjelasan dosen, soal ujian, hingga interaksi akademik berlangsung dalam bahasa Arab. Salah satu dosen saya di kampus pernah berujar, “Jika dikatakan bukan Azhari orang yang tidak hafal Al-Qur’an, maka demikian pula bukan Azhari orang yang tidak menguasai bahasa Arab.”
Antara Bahasa dan Kaidah
Jika ada anggapan bahwa menguasai bahasa Arab cukup dengan memahami kaidah nahwu, sharaf, dan balaghah, maka anggapan ini kurang tepat. Kemahiran berbahasa berbeda dengan pengetahuan tentang kaidah bahasa, meskipun keduanya saling mendukung.
Kemahiran bahasa adalah kemampuan menggunakan bahasa itu sendiri: mendengar, membaca, menulis, dan berbicara. Adapun penguasaan kaidah adalah mengetahui aturan-aturan yang mengatur susunan kata dan kalimat.
Kaidah dapat disebut sebagai filsafat dari bahasa. Ia menjelaskan mengapa suatu kata dibaca demikian, mengapa akhir katanya berubah, atau mengapa susunan kalimatnya seperti itu.
Kaidah membahas alasan dan pola di balik penggunaan bahasa. Sedangkan bahasa itu sendiri adalah lafaz-lafaz yang dipakai dalam komunikasi. Sebagaimana definisi Ibnu Jinni (w. 391 H) bahwa bahasa adalah:
أصوات يعبر بها كل قوم عن أغراضهم.
“Suara-suara (lafaz-lafaz) yang digunakan setiap bangsa untuk mengungkapkan maksud/isi hati mereka.”
Dari sini terlihat bahwa bahasa pada dasarnya adalah alat untuk menyampaikan maksud. Adapun kaidah adalah penjelasan tentang cara kerja bahasa itu. Ia membantu dalam memahami dan memperbaiki penggunaan bahasa, tetapi bukan praktik berbahasa itu sendiri. Bahasa hidup dalam ucapan dan tulisan, bukan dalam kaidah.
Bukan berarti kaidah tidak penting. Justru kaidahlah yang menjadikan bahasa Arab tetap terjaga dan bisa dipelajari hingga hari ini. Serta kaidah pulalah yang mengarahkan bagaimana berbahasa Arab yang benar. Tapi bahasa tidak diperoleh hanya dengan memahami dan menghafal kaidah saja.
Maka, malakah berbahasa Arab bukanlah terletak pada penguasaan kaidah. Tidak semua yang paham kaidah dan istilah dalam nahwu, sharaf—dan ilmu bahasa Arab lainnya—otomatis mampu berbahasa dengan baik. Begitu juga sebaliknya, tidak semua yang bisa berbahasa Arab dengan baik pasti mengerti istilah dan kaidahnya.
Seorang Arab badui pernah berkata:
ولستُ بنحويّ يلوكُ لسانُه
ولكن سليقيٌّ أقول فأُعْرِبُ
“Aku bukanlah ahli Nahwu yang lidahnya berputar-putar (karena dibuat-buat), tetapi aku fasih secara alami; aku berbicara benar sesuai dengan i`rab-nya.”
Malakah berbahasa Arab
Sebelum bicara bagaimana membentuk malakah berbahasa Arab, perlu terlebih dahulu kita mengetahui pengertian malakah. Ia diartikan sebagai berikut:
الملكة كيفيةٌ نفسانيةٌ راسخةٌ في النفس، تصدر عنها الأفعال بسهولةٍ من غير فكرٍ ورويّة
“Malakah adalah suatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya perbuatan-perbuatan muncul dengan mudah tanpa perlu berpikir panjang.”
Malakah yang tertanam kuat berbeda dengan hal (حال) yang masih bersifat sementara dan mudah hilang. Seperti orang yang baru belajar bersepeda, yang masih berpikir tentang cara mengayuh, menjaga keseimbangan saat bersepeda. Meskipun punya kemampuan, tapi belum kokoh dan masih bersifat sementara, ia rentan hilang jika tidak terus dilatih.
Bahasa Arab bisa disebut malakah ketika ia siap digunakan kapan saja tanpa perlu berpikir panjang dalam pemilihan kata dan dan penyusunan kalimat, serta pengucapan i`rab yang benar.
Bagaimana Membentuk Malakah?
Bahasa Arab, sebagaimana bahasa lainnya, diperoleh melalui proses mendengar dan membaca, lalu dilatih penggunaannya melalui lisan dan tulisan. Proses ini berlangsung dalam waktu yang panjang, baik disadari maupun tidak.
Kita semua tumbuh dengan bahasa yang ada di lingkungan tempat kita lahir dan dibesarkan. bagaimana kita mempelajari bahasa itu? apakah dengan menghafal kaidah?.
Mari kita melihat ke masa kecil. Pertama-tama kita mendengar tutur kata orang tua dan keluarga. Lalu kita mulai berbicara dengan menirukan bunyi-bunyi yang kita dengar dari mereka, sementara mereka membimbing cara pengucapan yang benar.
Pada masa kanak-kanak, kita mulai berinteraksi dengan teman sebaya. Di sanalah komunikasi terjalin: saling berbicara dan saling menyimak. Seiring bertambahnya usia, perbendaharaan kata dan struktur kalimat kian berkembang. Dengan itu, kemampuan mengekspresikan isi hati pun semakin matang.
Semua proses ini berlangsung setiap hari. Tanpa disadari, kita sedang membentuk kemampuan bahasa. Semakin intens proses tersebut terjadi, semakin kuat pula kemampuan bahasa yang tertanam dalam diri.
Bahasa Kedua
Lalu muncul pertanyaan: Itu adalah bahasa ibu, bahasa yang menyertai sejak kecil. Apakah bahasa Arab yang dipelajari kemudian dapat diperoleh melalui cara yang serupa?
Memang, bahasa ibu umumnya lebih kuat karena diperoleh pada awal kehidupan. Namun jika diperhatikan, memperoleh bahasa kedua sebenarnya juga dengan pola yang sama. Mempelajari bahasa apa pun dilakukan dengan banyak mendengar dan berbicara, lalu disempurnakan dengan membaca dan menulis.
Kita kerap menyaksikan di internet atau media sosial ada orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris—atau bahasa asing lainnya—seperti atau mendekati penutur asli. Begitupun juga ada orang asing yang tidak lahir dan besar di Indonesia, namun mampu berbahasa Indonesia dengan lancar tanpa terbata-bata.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa masih jarang ditemukan alumni pesantren atau pelajar Timur Tengah, yang telah lama tinggal di lingkungan Arab, tetapi belum mampu berbahasa Arab dengan baik? Padahal begitu banyak lulusan pesantren dan kampus-kampus Timur Tengah yang setiap tahun terus bertambah.
Tantangan Bahasa Arab
Memang, menguasai bahasa Arab memiliki tantangan tersendiri yang barangkali tidak dijumpai pada bahasa-bahasa lain. Bahasa Arab memiliki kaidah yang kompleks dan tampak rumit. Ada beragam perubahan pada akhir kata yang dikenal dengan i‘rab. Satu akar kata pun dapat melahirkan banyak makna berbeda ketika ditashrifkan, dan berbagai kekhasan lainnya.
Di sisi lain, bahasa Arab yang kita pelajari bukanlah bahasa ‘ammiyah yang digunakan hari ini oleh orang Arab dalam percakapan mereka sehari-hari. Sementara bahasa fushah yang kita maksud di sini umumnya hanya dijumpai dalam forum resmi, perkuliahan, dan kajian ilmu agama.
Namun, apakah itu berarti mustahil dikuasai? Dapatkah pelajar bahasa Arab mencapai kefasihan mendekati penutur aslinya?
Jawabannya: sangat mungkin. Hal itu nyata dan terjadi. Saya memiliki beberapa teman dari Afrika –dan beberapa negara lainnya—yang bahasa ibu mereka bukan bahasa Arab. Mereka mempelajarinya di sekolah, sebagaimana kita di Indonesia. Meski demikian, banyak dari mereka mampu berbicara dengan lancar, dengan struktur dan pilihan kata yang tepat. Bahkan sebagian dapat menggubah syair.
Jika ditanya bagaimana mereka mendapatkan kemampuan itu, jawabannya adalah dengan latihan yang kurang lebih sama dengan apa yang akan kita sebutkan di bawah, entah memang dari individu mereka atau karena lingkungan pengajaran bahasa Arab di negara mereka sangat mendukung, seperti banyaknya paparan untuk mendengar dan membaca, ada guru-guru yang fasih, serta kewajiban menghafal syair-syair Arab.
Karena itu, ketika menghadiri kuliah atau majelis ilmu di sekitar Al-Azhar, sering kali mereka tampil aktif bertanya dan berdiskusi. Berbeda dengan sebagian pelajar kita, yang bahasa Arabnya masih terasa “dipaksakan”, sehingga lebih cocok dinamakan bahasa Indonesia yang diarabkan. Maka tak heran guru-guru di sini kadang sulit memahami ucapan Arab kita.
Langkah Praktis Melatih Empat Aspek
Berikut beberapa hal yang menurut saya penting diperhatikan, beserta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan malakah bahasa Arab dari 4 aspek, dimulai dari mendengar dan membaca sebagai proses menerima bahasa (input), kemudian menulis dan berbicara sebagai proses menghasilkan bahasa (output).
1. Mendengar
Jam kuliah atau majelis talaqqi yang diampu para dosen dan masyayikh merupakan kesempatan berharga untuk melatih menyimak. Bagi mahasiswa baru, hal ini biasanya terasa berat, karena perbendaharaan kata dan uslub yang terbatas atau belum terbiasa mendengar langsung dari orang Arab. Namun seiring waktu, telinga akan terbiasa dan memahami menjadi lebih mudah.
Banyak mahasiswa kita—terutama mahasiswa baru—mengikuti majelis yang diampu guru atau senior Indonesia, seperti bimbingan belajar diktat kuliah. Ini baik sebagai pengantar untuk memahami penjelasan dosen atau masyayikh. Akan tetapi, jika setelah satu atau dua tahun masih bergantung pada penjelasan berbahasa Indonesia, hal itu patut disayangkan. Pemahaman mungkin tetap diperoleh—bahkan kadang lebih cepat—namun latihan membentuk malakah berbahasa menjadi kurang maksimal.
Selain mendengar langsung, menonton tayangan berbahasa Arab fushah juga cukup efektif. Karena bisa belajar bahasa lewat hiburan. Bagi pemula, bisa dimulai dengan kartun berbahasa Arab. Setelah bisa menyimak dengan baik, maka mulai beralih ke film yang kaya bahasa dan bernilai sastra. Di antara yang menurut saya bisa dinikmati cerita film, keindahan bahasa, dan nuansa sejarahnya adalah serial Umar (مسلسل عمر بن الخطاب) dan Al-Hajjaj (مسلسل الحجاج بن يوسف الثقفي).
2. Membaca
Selain membaca diktat kuliah dan kitab talaqqi, biasakan membaca di luar buku pelajaran. Misalnya karya sastra, syair, majalah, atau surat kabar. Paling tidak, ikuti akun media sosial berbahasa Arab dan jadikan unggahannya sebagai bahan bacaan di waktu luang.
Usahakan untuk tidak terlalu bergantung pada buku terjemahan. Di pesantren dahulu, kami tidak diperkenankan membaca terjemahan kitab pelajaran. Tujuannya agar santri menyerap langsung kosakata, struktur kalimat, dan gaya bahasanya, tidak hanya isi pelajarannya saja.
Di sisi lain, banyak ungkapan Arab yang sulit diterjemahkan, kalaupun bisa diterjemahkan dengan baik, tetap ada “rasa” yang hilang. Sebab bahasa suatu bangsa mencerminkan pola pikir dan tabiatnya. Karena itu muncul ungkapan dari Imam Syafii:
من تعلّم العربية رقَّ طبعُه
“Siapa yang belajar bahasa Arab, niscaya akan lembut tabiatnya.”
3. Menulis
Kemampuan menulis dapat dilatih dengan merangkum pelajaran, atau sekadar menuliskan satu-dua paragraf dengan tema bebas setiap hari. Pada awalnya memang terasa sulit, bahkan menulis dalam bahasa Indonesia sekalipun bagi yang belum terbiasa. Karena itu, latihan dan konsistensi menjadi kunci.
Para ulama yang menulis kitab berjilid-jilid pun memulai dari risalah-risalah kecil. Seiring bertambahnya ilmu dan kematangan, kualitas dan kuantitas tulisan pun meningkat.
4. Berbicara
Mesir—terutama lingkungan Al-Azhar—adalah tempat yang sangat mendukung untuk melatih percakapan bahasa Arab. Berdialog dengan dosen dan mahasiswa dari berbagai negara merupakan kesempatan emas untuk membentuk malakah berbicara, sekaligus mengambil manfaat ilmu dari mereka.
Kurangi interaksi dengan bahasa lain—termasuk bahasa Indonesia—selama berada di lingkungan Arab. Bukan berarti meninggalkan bahasa sendiri, tetapi memberi ruang dominan bagi bahasa Arab agar ia tumbuh kuat dalam diri.
Jika tidak ada teman berbicara bahasa Arab, dinding dan cermin pun dapat menjadi “pendengar” setia. Saat menghafal atau mengulang pelajaran, coba jelaskan kembali materi tersebut seolah-olah sedang mengajar seperti masyayikh. Cara ini efektif melatih spontanitas dan kelancaran. Dengan pengulangan, peningkatan akan terasa nyata.
Menulis dan berbicara memerlukan “amunisi” yang cukup: kosakata, struktur kalimat, dan uslub. Tanpa itu, kesulitan akan terus muncul.
Karena itu, memperbanyak hafalan teks Arab—terutama yang bermutu tinggi—sangat membantu meningkatkan kualitas bahasa. Menghafal syair Jahiliyah, kata-kata hikmah, Al-Qur’an sebagai puncak keindahan bahasa Arab, serta hadis-hadis Nabi (jika memungkinkan) akan memperkaya rasa bahasa dan memperkuat malakah secara bertahap.
Penutup
Maksud dari tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau meragukan kemampuan para mahasiswa kita. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk saling menguatkan dan saling menyadarkan. Terutama bagi teman-teman yang sedang belajar di Mesir atau memiliki kesempatan menuntut ilmu di negeri Arab—jangan sia-siakan lingkungan yang sangat mendukung ini untuk memaksimalkan penguasaan bahasa Arab.
Manfaatkan setiap momen: percakapan ringan setelah kuliah, diskusi kecil di majelis ilmu, bahkan obrolan sehari-hari dengan teman-teman di rumah. Jangan takut salah. Justru masa kuliah inilah waktunya untuk salah dan berbenah. Bahkan mereka orang-orang Arab juga tidak semuanya bisa berbahasa Arab fushah. Karena sejatinya Arabnya seseorang bukan ditentukan oleh keturunan tapi oleh lisan.
Akhirnya, membentuk malakah bahasa Arab bukan sehari dua hari. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan semangat membara dalam berlatih. Siapa yang melakukan itu semua, akan merasakan bahasa Arab—dengan segala keindahannya—seperti bahasa ibu yang ia dapatkan sejak kecil. Ia akan mengalir secara alami, menjadi bagian dari cara berpikir dan cara mengekspresikan diri.
Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam memahami dan menguasai bahasa Al-Qur’an ini, serta menjadikannya sarana untuk memahami agama dengan lebih dalam dan benar.
Oleh: A. Ramanda
Editor: Kru Gentala

Komentar
Posting Komentar