Indonesia adalah negeri yang berdiri di atas fondasi kebudayaan. Dengan lebih dari 1.300 suku bangsa dan ratusan bahasa daerah, negeri ini menyimpan kekayaan tradisi yang tak ternilai. Setiap daerah memiliki cara unik dalam mengekspresikan nilai, identitas, dan keyakinannya, menjadikan Indonesia sebagai mozaik besar yang penuh warna. Keberagaman ini bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang memperkaya kehidupan berbangsa.
Salah satu provinsi yang turut memberi warna dalam keberagaman itu adalah Jambi. Dikenal dengan julukan “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah”, provinsi ini menyimpan aneka adat, kesenian, kuliner, hingga bahasa yang berlapis-lapis. Dari Kerinci hingga Tanjung Jabung, setiap daerah memiliki karakteristik budaya yang berbeda. Namun, semuanya berpadu dalam satu identitas: Jambi.
Jika Jambi ibarat sebuah permadani, maka Tanjung Jabung Timur adalah salah satu benang yang menyulam indahnya. Terletak di kawasan pesisir timur, daerah ini dikenal sebagai wilayah yang kaya akan hasil laut sekaligus budaya pesisir. Kehidupan masyarakatnya erat dengan tradisi bahari, sehingga warna budaya yang lahir pun kental dengan nuansa laut dan perdagangan.
Di balik letaknya yang jauh dari pusat kota, Tanjung Jabung Timur justru menyimpan keberagaman etnis yang unik. Salah satu etnis yang turut membentuk wajah budaya daerah ini adalah suku Bugis. Mereka datang bukan sekadar singgah, tetapi menetap dan membaur dengan masyarakat setempat, membawa serta budaya dan tradisi mereka.
Bugis sejatinya berasal dari Sulawesi. Namun, pertanyaannya: kok bisa sih mereka sampai jauh ke Jambi? Jawabannya ada pada jiwa perantau yang melekat kuat dalam darah Bugis. Sejak abad ke-17, terutama pasca Perang Makassar (1666–1669), banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya dan mengarungi lautan Nusantara. Selat Malaka menjadi jalur utama pelayaran mereka, hingga sebagian akhirnya berlabuh di pesisir timur Sumatra, termasuk Jambi.
Di tanah Jambi, orang Bugis tak hanya singgah, melainkan ikut membangun denyut ekonomi daerah. Mereka terlibat dalam perdagangan lada, pinang, hingga karet, menghubungkan pedalaman Jambi dengan pelabuhan besar seperti Johor dan Malaka. Tak sedikit pula yang menikah dengan masyarakat setempat, melahirkan generasi Bugis-Jambi yang mewarisi dua budaya sekaligus.
Jejak Bugis masih terasa hingga kini, terutama di kawasan Muara Sabak dan Tanjung Jabung. Rumah panggung khas Bugis berdiri berdampingan dengan rumah Melayu Jambi, menjadi saksi asimilasi yang harmonis. Dalam bidang sosial maupun politik, mereka pun memberi kontribusi penting, tanpa meninggalkan identitas perantau yang tetap terhubung dengan saudara mereka.
Salah satu warisan budaya yang mereka jaga dengan penuh cinta adalah perayaan Maulid Nabi. Bagi masyarakat Bugis, Maulid bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan pesta syukur dan kebersamaan. Di Tanjung Jabung Timur, tradisi ini identik dengan hadirnya male—bakul atau ember berisi nasi ketan (sokko’), ayam goreng, irisan jeroan, telur, dan aneka pelengkap lain. Bakul dihias warna-warni dengan kertas krep, kain batik, atau batang pisang yang ditancapi telur rebus berwarna-warni. Seusai acara, male dibagikan kepada hadirin, bahkan anak-anak riang berebutnya sebagai berkah Maulid.
Lebih dari sekadar hidangan, male sarat makna simbolik. Telur bulat dimaknai sebagai kehidupan dan kesucian fitrah manusia, sekaligus tiga pilar utama Islam: Iman, Islam, dan Ihsan. Batang bambu tempat telur ditancapkan melambangkan keteguhan iman yang harus ditegakkan. Pohon pisang menjadi lambang kebermanfaatan, sebagaimana Rasulullah Saw. yang memberi manfaat bagi semua. Adapun nasi ketan (sokko’) adalah simbol ukhuwah, merekatkan satu sama lain sebagaimana lengketnya butiran ketan. Semua ini adalah pesan bahwa Maulid Nabi bukan hanya mengenang kelahiran Rasul, tetapi juga momentum memperkokoh iman, ukhuwah, dan kebermanfaatan.
Pada akhirnya, tradisi Maulid Nabi ala Bugis di Tanjung Jabung Timur bukanlah sekadar milik satu etnis, melainkan sudah menjadi denyut nadi kebudayaan Jambi itu sendiri. Bugis datang sebagai perantau, namun mereka berakar dan berbuah di tanah ini, menorehkan jejak dalam sosial, ekonomi, hingga budaya. Maka, ketika kita merayakan Maulid dengan male yang penuh simbol dan makna, sesungguhnya kita sedang merayakan Jambi—sebuah tanah yang lapang menerima, merangkul, dan menyatukan perbedaan. Dengan demikian, budaya Bugis bukan lagi sekadar tamu, tetapi sudah menjadi salah satu benang indah yang menyulam permadani kebudayaan Jambi.
Semoga tulisan ini dapat menginspirasi kita semua dalam memaknai dan membangun Indonesia tercinta, menjaga kualitas dan kuantitas kebudayaan Indonesia yang telah ada dari pengaruh kebudayaan asing dan menciptakan karya cipta budaya yang bermakna pendidikan bagi setiap elemen masyarakat. Jadi, kita merasa bangga dan tak malu menjadi ‘Orang Indonesia’. Indonesia, aku bangga!
Oleh: Muhammad Riski Maulana
Komentar
Posting Komentar